Saya adalah seorang gadis remaja
yang hampir memasuki jenjang pendewasaan, dulu. Ketika itu, saya lupa kapan
tepatnya. Mungkin sekitar akhir tahun 2010 atau awal tahun 2011, entahlah,
mungkin rasanya telat untuk diceritakan kembali. Namun, memori saya terus
memaksa untuk menuliskan hal ini, walau sudah berkali-kali saya menolaknya.
Berkali-kali pula saya memaksa ingatan saya untuk mengingat kembai waktunya,
kapan, namun berkali-kali pula, kepala saya malah menjadi sakit. Oke. Saya
menyerah, tak peduli kapan kejadian itu terjadi. Tapi izinkanlah saya
bercerita.
Di Daerah Pondok gede wilayah
Jakarta Timur, disana ada satu keluarga dari mama saya, adik mama tepatnya.
Hari itu, pertama kalinya saya
pergi ke rumahnya tanpa ditemani mama, hanya saya dan adik saya. Tidak. Saya
tidak ingin bercerita tentang keluarga saya, ataupun keluarga adik mama saya
tersebut.
Lamborghini putih berhenti tepat
di depan sebuah café di pinggiran ibukota. Terlihat sepasang kekasih keluar
dari lamborghini tersebut, keduanya terlihat begitu serasi, melangkah
beriringan memasuki café itu.
“Rose ..” sang
wanita menoleh ketika mendengar suaranya di panggil, wanita itu tersenyum, ia
pun melangkah mendekati suara yang memanggilnya, tangannya masih terselip di
lekukkan siku kekasihnya. Cowok kece, dengan tampang kebule-bulean.
“Liat, liat. Gila ya si Rose, cowoknya ganteng banget.”
“Waaah .. itu cowok keren banget.”
“Mauuuuu ..” bisik-bisik tetangga mulai terdengar di kerumunan
beberapa gadis yang sedang mengadakan party
kecil disana. Sedang, beberapa cowok yang juga ada di sana pun terlihat kagum
ketika melihat pasangan yang sebentar lagi akan bergabung bersama mereka.
“Sori ya gue telat” ucap gadis
yang mengenakan blouse merah marun itu ketika sudah bergabung bersama
teman-temannya.
“Santai.” Jawab salah seorang
dari mereka. Rose pun tersenyum, kemudian tersadar “Oh iya, kenalin, ini
Leonard, cowok gue.” Rose dengan bangga mengenalkan kekasihnya kepada semua
temannya yang ada disana.
Hepi besdey to me .. Hepi besdey
to me .. Hepi besdey Hepi besdey .. Hepi besdey to me ..
Happy birthday Aya Nurhayani.
Seminggu sebelum tanggal 20
November 2013 lalu, gue kerja masuk pagi. Berangkat jam setengah enam pagi dan
pulang setengah lima sore. Entah ada apa dengan diri gue, ada apa dengan
perasaan gue, dan ada apa dengan hati gue. Seminggu itu gue ngerasa bahagia
banget. Apa ya .. sulit di jelasin rasanya. Bahkan hari senin yang sering
menjadi hari ke-BT-an sedunia pun terasa begitu menyenangkan. Bukan. Bukan
karena gue lagi jatuh cinta, jadi semua terasa indah. Tapi kurang lebih,
mungkin rasanya nyaris sama, bahkan lebih.
Gue berangkat pagi itu, di hari
selasa 19 November 2013. Gue masuk ke dalam bus hiba utama berukuran besar,
duduk di deretan bangku nomor dua dari depan. Isi penumpang dalam bus itu baru
tiga orang. Gue, satu teman yang udah naik duluan, dan yang satu nunggu bareng
gue. Gimana awalnya gue lupa, tapi yang pasti, pagi itu bibir gue enggak
henti-hentinya tersenyum. Gue ngerasain udara yang sejuk, aliran darah dan
detak jantung yang teratur. Dan saat itu juga hati gue berbisik, pun sempat gue
ucapkan ‘Terima kasih ya Allah’.
Sederhana. Itu hanyalah hal sederhana yang menghadirkan kebahagiaan luar biasa.
Buat gue.
Dan sepanjang jalan itu
(Bekasi-Cikarang) gue berpikir, apa pantas kalau gue masih ‘Ngarep’ ?. Anything. Ya. Mutlak ko buat manusia
untuk berharap apa-apa yang dikehendakinya pada Sang Maha Pemberi. Karena dalam
agama gue (Islam) tertulis jelas di dalam kitab yang gue imani, begini artinya
“Dan Tuhanmu berfirman:
"Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu ..” (Q.S Al
Mu'min : 60).
Santai .. enggak usah serius gitu
mentang-mentang judulnya ‘agak frontal’. Ketika
aku ditanya ‘Masih gadis-kah kamu ?’. Kan penulisnya tetap gue, jadi ..
selow meeeeeeeen #nyengir.
*sikap*
Berkaca pada situasi yang ada di
era globalisasi masa kini. Gue agak ngeri sama pergaulan anak bawang zaman
sekarang. Kenapa ? situasi ? era globalisasi ? Iya, ah masa enggak tau bahasa
Vicky #eeh.
Lanjutkan !
Dulu. Dulu, zaman gue kecil yang
namanya naksir temen enggak ada tuh niat-niat bikin video panas. Boro-boro
video kayak begituan, foto-foto alay aja masih pake kodak, yang di cuci lebih
dulu, terus jadi klise atau negative baru di cetak jadi selembar foto. Dan,
foto-foto cuma terjadi pas kita jalan-jalan doang. Jalan-jalan juga jarang.
Curhat dikit jossss.
Tapi sekarang, ironis. Foto
dimana pun jadi. Gaya gimanapun ada. Ah, masa lalu, selalu menghadirkan
berbagai macam kenangan saat teringat kembali. Oke. Oke. Enggak mau bawa-bawa
zaman, toh langkah selalu kedepan. Ya. Tapi gue sangat bersyukur lahir lebih
dulu. Dan hidup dalam generasi 90an.
Wanita.
Wanita itu ibarat korek api (bukan korek gas)
Apabila sudah tergores, tak ada artinya lagi.
Ya. Dalam agama mana pun, gue
yakin, wanita selalu dimuliakan. Dalam agama gue khususnya (Islam), banyak
ayat-ayat dalam Al-quran yang menerangkan tentang wanita. Bahkan ada satu surat
yang dinamakan surat An-Nisa yang artinya wanita. Betapa, Allah saja memuliakan
kaum tersebut.
Ah, tapi sayang, banyak wanita
yang enggak memuliakan dirinya sendiri. Setidaknya, sekedar menjaga
kehormatannya. Pecah nih bahasannya.
Zaman gue SMA, sekitar tahun
2006-2009an. Gue juga mengalami masa sulit tersebut, masa dimana gue ingin
mencoba segala sesuatunya. Masa yang biasanya disebut masa puber.
Gue pacaran sejak kelas dua SMP.
Hubungan yang gue sebut ‘pacaran’ itu bermula dari suka ketemu, terus sering di
ceng-cengin, rasa deg-deg kan pas ketemu, surat-suratan, dan ada kangen kalo
enggak ketemu. Sebatas itu.
Terios. Mendengar kata dan membaca tulisan itu selalu membuat saya teringat akan kejadian tempo lalu. Ya. Sebesar apapun usaha saya untuk melupakan peristiwa itu, tetap tidak akan pernah bisa dilupakan rasanya. Artikel saya yang di ikut sertakan dalam lomba awal #terios7wonders dengan judul ‘Sawarna, desa sederhana dengan maha karya yang tidak sederhana’ terpilih menjadi dua puluh lima finalis dari Viva. Saya pun mendapatkan kesempatan untuk datang dalam acara blogger gathering. Namun sayang, beberapa hal terjadi dan saya tidak dapat mengikuti acara tersebut.
Oke. Saya mencoba berbesar hati dan mengabaikannya. Namun, enggak semudah yang saya pikirkan. Setiap kali saya melihat maupun mendengar iklan Daihatsu terios di televisi, saya akan selalu ingat akan kejadian tersebut. Dan aneh rasanya, dimana-mana saya selalu menemukan mobil dengan enam huruf di sisi kanan bagian belakangnya. Terios. Dimana pun, saya selalu melihatnya. Padahal, sebelumnya enggak begitu. Ah, mungkin itu hanya perasaan saya saja. Lupakanlah.
Selasa, 1 Okober 2013 petualangan itu di mulai. Petualangan yang akan di ikuti oleh 7 jurnalis dan 7 travel blogger dengan menggunakan 7 unit Daihatsu Terios. Lima blogger diantaranya adalah pemenang dari artikel #terios7wonders, mereka adalah Wira Nurmansyah (@wiranurmansyah), Bambang Priadi (@gelimembara), Puput Aryanto Risanto (@aryakamandhanu), Harris Maulana (@harrismaul), dan Giri Satrio (@satrio_mount). Rombongan berkumpul di Sentul City, Bogor.
Destinasi pertama adalah Sawarna, rombongan berangkat dari Bogor, mengarah ke Sukabumi dan kemudian berakhir di Sawarna, Lebak, Banten. Sepanjang perjalanan para sahabat petualang disajikan dengan jalanan yang berkelok di daerah Ciawi dan perbukitan Sukabumi. Namun tak perlu khawatir, semua tanjakan dan turunan yang cukup terjal tersebut dapat dengan mudah dilalui oleh si jagoan putih, Terios. Terkadang, untuk mendapatkan sesuatu yang menyenangkan dibutuhkan usaha yang tidak mudah. Begitu juga dengan para sahabat petualang, setelah melewati wilayah perbukitan di Pelabuhan Ratu, rombongan dimanjakan dengan berbagai keindahan pemandangan pesisir pantai yang dapat dinikmati di sepanjang jalan menuju pantai Sawarna. Pantai Sawarna, adalah maha karya Tuhan yang tidak sederhana. Awalnya, sawarna merupakan surga tersembunyi, namun sekarang keberadaannya tidak lagi tersembunyi, karena sudah banyak yang mengetahuinya.
Rombongan pun menikmati keindahan pantai yang masih bersih dan memutuskan untuk menyaksikan terbenamnya matahari, sekaligus bermalam untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan di kemudian hari. Perjalanan hari kedua akan menempuh rute terjauh sepanjang 600 kilometer menuju Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Sebelum gue bercerita apapun,
untuk mengawali tulisan ini, gue mau minta maaf terlebih dahulu sama temen gue.
Desi lalasari.
“Maafin gue ya des, ke dieng
diem-diem. Enggak ngajak lo. Bukan. Bukan apa-apa, cuma, gue tau lo susah buat
cuti. Dan perjalanan kesana enggak cuma sehari dua hari, enggak ada alasan
lain. Maafin gue ya ..”
Jumat sore, tanggal 1 November
2013 gue berangkat dari rumah, janjian sama dua teman gue di terminal. Yeah ..
kita mau ke dieng. Beruntungnya gue, enggak jadi bolos kerja ataupun cuti
lantaran emang dari hari jumat sampai selasa gue libur. Something banget kan.
Kita ketemuan di terminal bekasi
jam setengah lima sore, biasa .. orang Indonesia suka ngaret. Janji awal jam
empat, berhubung hujan turun, jadi agak ngaret dikit. Emang di intenary yang ada, kita akan berangkat
dari semanggi ke dieng itu jam tujuh malam. Ya. Meeting point di Plaza
Semanggi, Jakarta.
Kita bertiga baru dapat patas
sekitar jam lima kurang, dan .. ya, macet. Untung enggak jadi naik taksi. Beuh,
menggelembung nih argo kalo kita naik taksi. Pikiran gue waktu itu, ‘ah 70
orang ini yang ikut, pasti banyak yang telat’. Tenang.
Jam Sembilan kurang, gue sama dua
teman gue baru sampai di Semanggi. Langsung masuk ke loby utara depan dunkin
dunuts. Telpon Andi, team leader gue.
Asli. Gue kepengen kabur aja deh
pas tau kalau tinggal gue sama dua teman gue doang yang belum datang. Tiga elf
lainnya udah jalan duluan. Gue ada di elf dua. Suasana agak sedikit dingin. Gue
enggak enak banget, asli.
Buat para penumpang di elf dua,
maaf yeeeee .. #nyengir.
Ini tentang tuntutan. Tentang ketangguhan.
Dan tentang ke-perbudakan.
Senin, 28 Oktober 2013 sekitar
jam 3 sore gue berangkat kerja. Gue kerja pabrik, di salah satu perusahaan
industri di kawasan EJIP, Cikarang. Sore itu, jadwal jemputan gue jam setengah
tiga sore. Tapi, biasanya di awal sift atau hari pertama kerja (baca:hari
senin) jemputan sering ngaret. Gue pun memilih berangkat lebih lama. Setelah
asar gue baru jalan.
Cuaca sore itu hujan. Awalnya
deras, tapi cuma sebentar. Gue pun lega, gue duduk dihalte di temani seorang laki-laki yang
sepertinya enggak waras, gue duduk, dia celentang di kolong deretan besi yang
dijadiin bangku. Gue mencoba tenang pas suara petir menggelegar. Jegeeeer. Dan.
Hujan pun deras kembali. Suara petir saling bersahutan dengan kilapan cahaya
berwarna putih terang di langit. Gue ngeri, gue takut, dan gue pasrah.
Mba aya, jemputan udah di tol.
Deg. Kedua mata gue enggan
berkedip. Semua suara yang tadi terdengar santer mendadak sepi. Sesaat, gue
enggak bisa dengar apa-apa. Gue memasukan kembali hape yang cukup membuat gue
tegang. Hujan makin lebat, suara petir enggak henti-hentinya bergeming.
Untungnya, gue enggak cuma berduaan doang sama orang enggak waras tadi. Ada dua
orang lain yang juga berteduh di halte tersebut. Aneh. Gue ketakutan setengah
mampus, itu orang enggak waras malah cekikikan sendiri. Ah, gue geli
sebenarnya. Tapi please, ini bukan hal lucu. Gue pun mencoba tenang.