Minggu, 07 Desember 2014

JUMAT

Ini jumat ke dua ratus empat puluh, jemariku menggenggam spidol merah, melingkari kalender yang ku buat sendiri di dalam sebuah note bersampul senja. Sebuah bunyi beep mengalihkan perhatianku dari tumpukkan lingkaran merah di dalam note itu. Aku meraih ponsel, mengetik beberapa kata. Mengirimnya ke deret angka tak bernama. Singkat saja. Pesan itu berisi satu kalimat empat kata.

Jangan lupa salat jumat.


Minggu, 30 November 2014

9 di 23

“Kamu bawa CV ?” gue mengangguk ketika seseorang yang baru gue temui setelah dua jam mondar-mandir di salah satu rumah sakit swasta terbesar di daerah bekasi menyapa gue dengan tatapan heran. Beberapa orang yang ada di ruangan bertulis ‘ruang gizi’ di depan pintu itu spontan menatap ke arah gue.
“Iya. Saya di suruh nemuin ibu Mita (nama samaran) di bagian gizi” jelas gue santai.
“Kamu mau ngelamar kerja ?” gue ngangguk sekali lagi mendengar suara yang keluar dari sosok wanita setengah baya berseragam serba putih.
“Enggak ! Saya enggak mau ! Saya enggak mau nerima. Kamu, kalau mau ngelamar kerja yang sopan dong. Pakai kemeja putih, bawahan hitam. Pulang sana. Besok kesini lagi ! Pakai pakaian yang sopan. Masa ngelamar kerja pake beginian ? mau kemana kamu ?”

Kamis, 13 November 2014

5 MENIT

“Ay, itu anak-anak lagi pada ngomongin eloh. Mereka bilang kalau yang ngambilin daleman yang lagi di jemur itu eloh. Terus ada juga yang bilang, katanya eloh yang tiap malem ngeraba-raba badan anak-anak, soalnya, kan, eloh doang yang enggak punya pacar diantara kita. Tapi gue .. gue percaya, lo─”

“STOP ! Anjirrrrrrr ! gue di fitnah ! brengsek ! ini pasti si Annabelek yang nyebar gossip. Biar gue santet tuh orang sampe mampus !”

Kalau gede nanti, gue mau jadi cantik.

Susan, susan, susan
Besok gede mau jadi apa
Aku kepingin pinter
Biar jadi dokter

Nah, Susan aja punya cita-cita. Ya, masa gue enggak. Zaman gue SD, gue selalu menulis ‘Presiden’ di kolom cita-cita (titik dua), karena di benak gue yang seorang anak kecil, Presiden adalah orang nomor satu di sebuah Negara. Kalau jadi Presiden, gue enggak punya lagi atasan. Semua terserah gue. Selesai.

Selasa, 04 November 2014

Pernah ada

Bedanya, dulu kita begitu lepas untuk sekadar tertawa bersama, pun bercerita. Tapi sekarang untuk bertegur sapa saja seperti ada rasa sungkan.
Jujur, sebulir air menetes dari sudut mata saya ketika membaca personal messenger yang ada di dalam contact aplikasi android milik saya. Salah seorang teman menuliskan dua kalimat tersebut. Tak peduli kalimat itu di peruntukkan untuk saya ataupun tidak, saya tak memikirkan hal itu. Namun, sepercik kerinduan melesat tak terelakkan. Ingatan saya menyusup, memaksa untuk memutar mundur canda tawa ataupun duka lebay di masa lalu. Masa dimana semua selalu baik-baik saja, masa dimana kecanggungan tak perlu berperan sebagai pembatas, masa dimana waktu selalu tak pernah habis untuk di lewati bersama.

Senin, 27 Oktober 2014

Malam minggu yang beruntung

Malam itu mereka memang sedang tidak ada di hotel berbintang lima, enam atau sepuluh. Dua anak manusia yang memisahkan diri dari rombongannya itu duduk di puncak gunung dengan kilauan bintang yang tak terhitung jumlahnya, lebih indah dari hotel berbintang yang berupiah tinggi.
“Gue selalu senang kalau nanjak sama lo” si laki-laki bertubuh kurus tiba-tiba mengeluarkan kalimat tersebut di sela obrolan mereka, kalimat yang membuat gadis berjilbab di sebelahnya terdiam dalam sesak.

Kamis, 09 Oktober 2014

ITU TALKSHOW

“Ya, nanti yang ngisi tausyiah, kamu, ya ?”

Deg.

Gue yang lagi kerja langsung membeku sesaat ketika suara itu bertengger di telinga gue.

“Lah, kok saya ? Yang lain aja, pak, yang lebih waras dari saya kan banyak”

“Yang lebih waras emang banyak, tapi kalau ada yang lebih murah kenapa enggak ?”

Aduh. Enggak. Enggak gitu jawaban pak Ridwan─salah seorang atasan gue waktu nguli di Sanyo─ gue enggak di bayar kok buat jadi orang ‘bener’.

“Udah. Kamu aja, nanti kalau enggak ada bahannya, biar saya yang cariin, saya tulisin, kamu tinggal baca doang.”

“Iya. Tapi kenapa saya ? Kenapa enggak mereka ? atau dia ? atau siapa-lah ? kenapa harus saya ?” tanya gue sok dramatis.

“Masa gitu aja enggak berani. Pokoknya besok kamu yang tausyiah”