Jatuh cinta lagi adalah obat patah hati terbaik, katanya. Namun kadang, hati yang patah tak membutuhkan cinta yang baru, melainkan hanya perlu di lekatkan kembali, di kumpulkan puing-puing patahannya, kemudian kembali di rekatkan hingga menjadi utuh.
Minggu, 09 Agustus 2015
Berdamai dengan patah hati
Sabtu, 08 Agustus 2015
Adek gue udah gede
“Jadi, kakak keabisan inspirasi ? aaah, gampang lo mah kak, lo cukup keluar, liat keramaian, nanti juga langsung dapat inspirasi. Biasanya gitu, kan ?”
Kalimat Ana –adik gue─ membuat gue terdiam. Ya, gue mencoba mengingat, kapan terakhir gue keluyuran tanpa tujuan seorang diri. Lama rasanya enggak begitu. Duduk berlama-lama di bangku stasiun, menghabiskan ber-jam-jam di sebuah tempat makan sambil memperhatikan sekitar, nonton film di bioskop, menghadiri acara-acara yang berujung ketersesatan, salah naik angkotan umun, menjadi pendengar dari orang-orang asing yang enggak sengaja gue temui, dan semuanya gue alami sendirian, seorang diri. Iya, gue merindu menjauh. Menjauh bersama diri gue sendiri, menyaksikan keramaian.
Tapi bukan tentang hal itu yang pengin gue tulis detik ini. Kalimat yang keluar dari balik bibir adek gue, membuat gue tersadar akan satu hal, ‘adek gue udah gede’.
Jumat, 07 Agustus 2015
Rasa yang menyisakan tanda tanya
Ranum kembali menyeruput cokelat panas yang tinggal setengah cangkir, gadis berhijab itu menarik napas panjang, matanya terpejam. Ada sayatan yang tak terlihat di bagian terdalam dirinya.
Aku mencintaimu. Sejak lama.
Kalimat itu menari di benaknya, kalimat sederhana. Sebuah pengakuannya kepada seorang pria, kalimat yang di kirimnya melalui pesan singkat. Memang bukan kalimat tanya, namun membutuhkan jawaban.
Minggu, 02 Agustus 2015
Menjemput Jodoh
![]() |
| picture from www.jampang.wordpress.com |
Pernah enggak sih beli barang di olshop, terus COD-an, eh tanpa di percaya, kamu sama si yang punya olshop itu jodoh.
Atau mungkin daftar di sebuah open trip, seharian jalan bareng padahal belum saling kenal sebelumnya, langsung nyaman, kemudian ikut trip lagi, eh nikah sama si yang punya trip. #Lho. Maksudnya sama temen yang ikut tripnya.
Hmm .. mungkin juga, selama ini jalan bareng tanpa ada rasa, masing-masing punya pasangan, eh ujung-ujungnya nikahnya sama yang keseringan jalan bareng.
Whatever-lah, kata Rasulullah, jodoh itu hal yang ghaib.
***
satu malam di pulau Cipir
Biasanya sesuatu yang direncanakan kerap kali tak terlaksana. Biasanya perjalanan yang dengan matang di agendakan tak menghadirkan beragam kejutan kecil yang sulit terlupakan. Saya menyukai segala sesuatu yang tak terencana, juga perjalanan tak bertuju.
Minggu, setelah hari raya idul fitri lalu, saya bersama sebelas teman lainnya memutuskan untuk plesiran ke sebuah pulau. Pulau Cipir, salah satu pulau yang ada di kepulauan seribu. Memang bukan pulau yang kebanyakkan menjadi pilihan wisatawan untuk berkunjung, pun dengan saya. Sungguh, pulau tersebut tak masuk dalam option yang akan saya jadikan tempat bermalam mengisi sisa libur hari raya. Pulau Bira, pulau Semak daun, pulau Melinjo, pulau Perak, pulau Bulat atau pulau Harapan, pulau-pulau yang menjadi rekomendasi dari seorang teman.
Minggu, 21 Juni 2015
Lorong waktu
![]() |
| taken picture from www.lintasan.com |
“Eh, Aziz, lo bukannya sholat malah jualan ! Gimana sih ?” teriak seorang bocah kepada temannya yang sedang berdagang makanan ringan di halaman masjid bagian pinggir. Saya geli, persoalannya, bocah cewek yang meneriakinya itu pun tidak sholat. Bocah berusia kisaran sembilan tahun itu menggunakan mukena, menggelar sajadah, lalu duduk sambil mengunyah berkantong-kantong lidi-lidian yang dibeli dari temannya itu. Lucu, bukan ?
Senin, 01 Juni 2015
‘RUMIT’
![]() |
| picture from www.pinterest.com |
Satu malam, setelah mengantar peserta main-main ke pulau, saya bersama seorang teman lelaki tak langsung pulang. Ada beberapa hal yang harus dibicarakan kepada pemilik kapal yang biasa kapalnya kami sewa.
Sekitar pukul tujuh malam, kami meninggalkan dermaga lalu duduk di sebuah warung tenda pinggir jalan untuk mengisi perut.
Teman saya ini pernah bilang kalau dirinya lebih senang mendengarkan, tapi entah, malam itu ia seolah lupa dengan kalimatnya sendiri, saya memberinya telinga untuk menyimak semua cerita yang terlontar. Dia lelaki yang baik dalam penilaian saya. Seorang teman yang selalu membuat saya nyaman dalam setiap keadaan.
Langganan:
Postingan (Atom)



