Selasa, 01 Desember 2015

Yang saya tahu, patah hati ataupun jatuh cinta, tidak pernah sesakit ini

“Maafkan aku, sebelum aku menikah denganmu, aku pernah mencintai seseorang” Ucap Fatimah di malam pertama pernikahannya. Mendengar kejujuran dari isterinya, Ali sedikit kecewa.
“Kau tahu siapa orangnya?” Ali menggeleng.
“Seseorang itu adalah engkau, wahai suamiku”

Sabtu, 28 November 2015

Kenapa menulis?

2005. Saya ingat, untuk pertama kalinya saya mulai memproklamirkan diri bahwa cita-cita saya ingin menjadi ‘penulis’.

Cita-cita yang tercetus dari mulut seorang anak berusia tiga belas tahun pada saat itu. Menulis adalah hal mendasar untuk setiap manusia, sejak kecil, saya meyakini, semua manusia diajarkan untuk menulis. Menginjak remaja, ketika satu hari saya di pinjami sebuah buku yang disebut teman saya novel, saya tidak suka membaca apalagi menulis, tapi, teman saya terus saja menyodori novel ‘tebal’ itu kepada saya.

‘Oke. Oke. Gue pinjam!’ kata saya akhirnya, novel itu saya bawa pulang, enggak untuk dibaca, tapi saya biarkan di dalam tas sekolah. Satu malam, hati kecil saya memerintah untuk membuka novel tersebut, dan saat itu pula, ketika saya membaca halaman pertama dan seterusnya, saya seperti tersedot ke dalamnya. Saya masuk ke dunia yang berbeda, dunia seorang penulis. Setelah rampung membaca novel itu, selanjutnya, membaca menjadi kegemaran saya. Seperti yang sering dikatakan kebanyakan orang, biasanya orang yang gemar membaca, senang juga untuk menulis. Pelan-pelan, saya mencoba menulis, menulis yang enggak biasanya saya tulis. Menulis sebuah cerita, cerita panjang dengan tokoh-tokoh yang saya ciptakan sendiri. Sampai detik ini, menulis, menjadi bagian tak terpisahkan dari diri saya.

Rabu, 25 November 2015

Ceritanya surprise ‘kado yang enggak spesial’

19 November 2015, sekitar pukul 9 malam saya sudah terlelap.

Lalu bangun-bangun udah jadi 25 tahun.

Pukul tiga dini hari, saya membaca beberapa pesan yang masuk, pesan berisi ucapan dan doa di tanggal kelahiran saya. Saya begitu menyukai hari jadi saya, bukan apa-apa, saya menyukai satu hari itu, karena di hari itu banyak doa yang khusus untuk saya.

Selasa, 17 November 2015

BELUM ADA JUDUL

picture by M. Aan Mansyur
@aanmansyur on instagram
Kemarin malam, saya cukup lama memandang sebuah foto yang di crop dan di kirimkan kepada saya oleh seorang teman. Foto yang di dalamnya tersenyum dua wajah, saya berkali-kali menggeleng ketika membaca caption dari foto itu ‘cocok, oops’ tulisnya.

Sabtu, 14 November 2015

PERCAYA

picture by Fathurrohman arif
@tjiptotjupu on instagram
Dua hari kemarin, berturut-turut saya bertemu dengan orang-orang asing yang memberikan kepercayaan kepada saya. Bukan. Mereka bukan orang-orang ‘besar’ atau siapapun.

Kamis, 22 Oktober 2015

BATAS LANGKAH

savana pinggir jalan, Lombok
pict by Jono

“Nanti, kalau kamu udah nikah. Terus kamu punya anak perempuan, anak kamu suka traveling juga, pergi berhari-hari. Kamu akan ngerti gimana rasanya jadi mama, gimana perasaan mama”

Deg.

Jumat, 02 Oktober 2015

Bakso malang di Yogyakarta #tanpa itinerary 3

“Darimana dan mau kemana, mbak ?”

Saya senyum sebentar lalu berdehem sebelum menjawab pertanyaan yang di lontarkan seorang pemuda yang saya temui di kapal fery Gilimanuk-Ketapang.

“Mmmm .. darimana ya ?” saya melempar pandangan ke lautan luas, dan kembali berkata “Dari Bali sih”

“Ooh, Bali, sekarang mau kemana ?”

Saya menganggukkan kepala “Mau ke Banyuwangi” singkat saya.

“Kerja ?” Tanyanya lagi. Bagaimana ini ? Tadinya saya hanya mau menjawab sekenanya, tapi sepertinya saya tidak bisa seperti itu, selain saya suka berbagi cerita, saya pun bahagia berbincang dengan orang asing.

“Mmmm, jadi, saya tuh dari Lombok, lanjut kemaren ke Bali, nah, sekarang mau ke Banyuwangi”

Pemuda itu, mereka bertiga mengangguk “Mau ngapain, mbak ?”

Ini pertanyaan mematikan bagi saya. Saya kembali melempar senyum “Jalan-jalan aja” ketiganya menatap saya heran, salah seorang mengeluarkan ‘hah ?’. Saya tertawa “kurang kerjaan, ya ?” ungkap saya masih menyisakan tawa.

Ketiganya ikut tertawa bersama saya, petang itu angin laut terasa bersahabat. Pun dengan saya bersama tiga orang asing yang tertawa tanpa jeda, entah, menertawakan apa.
*