Minggu, 21 Juni 2015

Lorong waktu

taken picture from www.lintasan.com
“Eh, Aziz, lo bukannya sholat malah jualan ! Gimana sih ?” teriak seorang bocah kepada temannya yang sedang berdagang makanan ringan di halaman masjid bagian pinggir. Saya geli, persoalannya, bocah cewek yang meneriakinya itu pun tidak sholat. Bocah berusia kisaran sembilan tahun itu menggunakan mukena, menggelar sajadah, lalu duduk sambil mengunyah berkantong-kantong lidi-lidian yang dibeli dari temannya itu. Lucu, bukan ?

Senin, 01 Juni 2015

‘RUMIT’

picture from www.pinterest.com

Satu malam, setelah mengantar peserta main-main ke pulau, saya bersama seorang teman lelaki tak langsung pulang. Ada beberapa hal yang harus dibicarakan kepada pemilik kapal yang biasa kapalnya kami sewa.

Sekitar pukul tujuh malam, kami meninggalkan dermaga lalu duduk di sebuah warung tenda pinggir jalan untuk mengisi perut.

Teman saya ini pernah bilang kalau dirinya lebih senang mendengarkan, tapi entah, malam itu ia seolah lupa dengan kalimatnya sendiri, saya memberinya telinga untuk menyimak semua cerita yang terlontar. Dia lelaki yang baik dalam penilaian saya. Seorang teman yang selalu membuat saya nyaman dalam setiap keadaan.

Jumat, 29 Mei 2015

SAAT SAAT REMAJA

picture from http://eigarebyu.blogspot.com/2013/12/catatan-akhir-sekolah-2005.html?m=1

*) Diatas bumi ini ku berpijak
Ada jiwa yang tenang di hariku
Tak pernah ada duka yang terlintas
Ku bahagia
Ingin ku lukis semua hidup ini
Dengan cinta dan cita yang terindah
Masa muda yang tak pernah kan mendung
Ku bahagia
Dalam hidup ini arungi semua cerita indahku
Saat-saat remaja yang terindah tak bisa terulang
Ku ingin nikmati segala jalan yang ada di hadapku
Kan kutanamkan cinta tuk kasihku agar ku bahagia

Rabu, 20 Mei 2015

puzzle 'tentang cinta'

“Adek, Bapak boleh minta tolong ?” saya menghentikan langkah pelan-pelan saya dalam gerbong kereta yang baru beberapa detik meninggalkan stasiun Banyuwangi Baru. Seorang laki-laki tua menghampiri saya dengan memperlihatkan dua lembar tiket kereta api di genggamannya. Saya memiringkan kepala, memperhatikan dua lembar tiket yang di perlihatkan kakek itu, “Ini tiket kereta Bapak sama Ibu, tapi gerbongnya beda. Bapak di gerbong 3, Ibu di gerbong 6. Adek bisa tolong kita, supaya Bapak sama Ibu satu gerbong ?”

Deg.

Saya menelan ludah, lantas mengamati dua lembar tiket kereta api itu lamat-lamat. Ya. Sepasang lansia yang memiliki dua tiket kereta api dengan gerbong terpisah.

Jumat, 08 Mei 2015

CHALLENGE ‘LANGKAH’

‘Seperti apa kau bermimpi, seperti itulah hidup memberimu ruang’
… … …
… … …
… … …

Tuuuuuuuuuuuuuuuuuut .. ..

Gue enggak tau mau nulis apa untuk pembuka postingan ini, gue punya buku ! GUE PUNYA BUKU ! BUKU KARYA GUE !

Oke. Oke. Itu lebay !

Jadi gini, sebagai sarana promo, kan, buku perdana gue ini ‘SELF PUBLISHING’, ya siapa lagi kalau bukan gue yang gencar buat promo ? Pembaca, kan, enggak selalu datang dengan sendirinya, sama kayak jodoh #eeh.

Dengan begitu, gue mau memberikan challenge buat yang mau ikutan aja sih, enggak maksa, serius :p

Jumat, 03 April 2015

TENTANG HATI YANG PATAH

take picture of www.vemale.com
“Setiap orang pasti akan mengalami patah hati yang mengubah cara pandangnya dia terhadap cinta seumur hidupnya ..”

Sebuah kutipan yang gue comot dari buku koala kumal, ada di halaman 207 itu ngebuat gue diam beberapa saat. Tanpa permisi sebuah ingatan yang menjalar pelan-pelan menyusup menjadi sebuah perasaan yang entah apa gambarannya, karena terlalu rumit jika di jelaskan.

Sabtu, 14 Maret 2015

Enggak lebih dari sekadar ‘MENYENANGKAN’

Aya, gue liat dari foto-foto lo, kok, lo suka ngetrip gitu sih ?

Saya mengerutkan kening sebentar ketika membaca pertanyaan yang mendarat di blackberrymessenger saya. Lalu mengetik kalimat jawabannya.

Karena itu menyenangkan.

Sebuah pesan kembali masuk,

Suka naik gunung, terus ke desa-desa mana gitu .. lo enggak dicariin sama nyokap emang ? pengin kayak lo, tapi gue enggak bisa.

Saya gemes untuk segera membalasnya.

Dicariin-lah, itu hal tersulit buat gue, minta izin emak. Tapi gimana, kalo enggak nekat, kita enggak kenal dunia luar, enggak tau betapa cantiknya Indonesia.

Pesan itu berakhir dengan penyataan teman saya,

Oh gituh ya, benar juga, kalo enggak nekat, kapan lagi.

Yang saya balas,

Ya, itu menyenangkan, bara.